Palapa Electronics Solution
Rabu, 17 Juni 2009
Kiat – Kiat Memperbesar Faktor Fortune Pada Saat SNMPTN
Faktor fortune disadari atau tidak memang bermain peran pada saat SNMPTN. Seseorang yang beruntung akan memiliki kesempatan yang lebih besar daripada orang lain. Hal ini dapat dianalogikan dengan suatu kesempatan pada sebuah persaingan yang sangat besar. Penulis pernah mengalami hal serupa. Pada saat UMB, penulis tidak diterima di UI dengan pilihan pertama dan kedua secara berturut-turut adalah Teknik Elektro dan Teknik Kimia. Kemudian, pada saat SNMPTN penulis akhirnya memutuskan untuk memilih Teknik Elektro (Karena memang menginginkannya) dan Fisika (Karena saking frustasinya ingin masuk UI.. LOL). Lalu, penulis pun mengikuti Ujian Saringan Masuk STAN sebagai cadangan ketika penulis tidak diterima di UI. Pada akhirnya, Penulis diterima di Teknik Elektro UI dan di STAN.
Penalaran penulis terhadap pengalaman tersebut adalah bahwa keberuntungan memang memainkan perannya. Pasalnya, mungkin pada saat UMB banyak peserta yang memilih Teknik Elektro walaupun passing gradenya tinggi. Lalu, pada saat SNMPTN mungkin sebagian peserta lebih memilih pilihan yang passing gradenya aman dan dapat dijangkau. Oleh karena itu, persaingan di Teknik Elektro semakin sedikit.
Beberapa kiat memperbesar keberuntungan yang pernah penulis alami adalah sebagai berikut.
Pertama, benar-benar mempersiapkan diri jauh sebelum ujian, yaitu belajar dengan rajin. Hal ini dilakukan untuk memperkuat mental agar kita siap dan yakin kita pantas masuk ke jurusan tersebut. Kekuatan keyakinan merupakan hal terpenting dalam hidup karena kekuatan pikiran akan keyakinan merupakan kunci keberhasilan. Keyakinan adalah kunci kesuksesan. Optimis bahwa kita selalu bisa akan mengalahkan setiap rintangan yang ada. Misalnya, pertunjukkan sulap yang dibawakan oleh Limbad dan Romy Rafael. Romy Rafael menghipnotis seorang penonton dan Limbad menusukkan jarum berukuran besar menembus tangannya. Penonton tersebut membuka matanya dan melihat jarum tersebut dan tidak merasakan sakit. Hal ini disebabkan oleh keyakinan yang dimiliki olehnya. Begitu juga pada SNMPTN. Keyakinan dapat membuat kita tenang dan akhirnya, ketenangan dapat membuat otak kita berpikir jernih sehingga dapat mengerjakan soal-soal ujian.
Kedua, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari campur tangan Tuhan. Tuhan lah yang menciptakan manusia dan Tuhan juga lah yang menentukan kehidupan manusia. Peran “Tangan” Tuhan tidak terbantahkan. Hal ini pernah dialami oleh penulis ketika menjelang dan setelah ujian SNMPTN. Penulis selalu berdoa di saat – saat yang mustajab. Beberapa saat itu adalah ketika di antara adzan dan iqomah, ketika berbuka puasa, ketika sepertiga malam, dan ketika sore menjelang maghrib. Penulis memanjatkan doa kepada – Nya agar diterima di UI. Bahkan, doa pada saat itu masih terngiang di telinga penulis. “Ya Allah, jika memang benar Teknik Elektro adalah yang terbaik bagiku, maka berikanlah aku kesempatan untuk menuntut ilmu di sana. Jika tidak, maka tunjukkanlah jalan yang terbaik untukku. Hanya kepada-Mu lah aku menyembah dan hanya kepada-Mu lah aku memohon pertolongan. Sesungguhnya, Engkau telah berfirman Ud’uni astajib lakum. Dan aku yakin bahwa Engkau adalah Zat Yang Mulia, Zat Yang tidak Pernah Mengingkari Janji. Oleh karena itu, Kabulkanlah doaku. Sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Menepati Janji. Innaka La Tuhliful Mi’ad.” Begitu kira-kira doa penulis. Penulis sedikit “mengancam” dengan memberikan kalimat Innaka La Tuhliful Mi’ad terhadap janjinya yang disebutkan dalam Al-Quran Ud’uni astajib lakum. Hal ini dilakukan karena penulis benar-benar frustasi. Karena tanpa pertolongan Allah penulis tidak akan pernah di sini (UI).
Penulis juga pernah berdoa di Masjid UI. Jika kau ingin kembali ke suatu tempat, berdoa lah di sana karena, dipercaya atau tidak, tempat tersebut akan merindukan kau. Sama halnya ketika di Tanah Suci, ketika seseorang berdoa bahwa tahun selanjutnya ingin kembali ke Tanah Suci, Tanah Suci akan merindukannya. ”Ya Allah, jika memang benar di sini(UI) adalah tempat terbaik bagiku untuk menuntut ilmu, maka berikanlah aku kesempatan untuk menuntut ilmu disini(UI). Izinkanlah aku sholat disini(Masjid UI) sekali lagi selama 4 tahun saja. Tidak lebih tidak kurang. Jika tidak, maka tunjukkanlah jalan yang terbaik untukku. Hanya kepada-Mu lah aku menyembah dan hanya kepada-Mu lah aku memohon pertolongan. Sesungguhnya, Engkau telah berfirman Ud’uni astajib lakum. Dan aku yakin bahwa Engkau adalah Zat Yang Mulia, Zat Yang tidak Pernah Mengingkari Janji. Oleh karena itu, Kabulkanlah doaku. Sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Menepati Janji. Innaka La Tuhliful Mi’ad.” Begitulah kira-kira doa yang penulis panjatkan kepada-Nya. Penulis menekankan 4 tahun saja karena jika 3 tahun, penulis khawatir masuk D3 UI dan jika 5 tahun, penulis khawatir tidak lulus dan mengulang suatu mata kuliah tertentu.
Ketiga, perbanyak sedekah. Hal ini dilakukan karena setiap kita memberi sedekah, Orang miskin akan mendoakan kita. Doa orang miskin merupakan doa yang mustajab, apalagi doa anak Yatim. Karena anak Yatim dipelihara oleh Allah sehingga doanya tentunya mustajab. Selain itu, malaikat – malaikat akan mendoakan ketika kita bersedekah terhadap orang – orang fakir miskin dan anak yatim.
Keempat, istiqomah. Ketika kita menginginkan sesuatu kepada seseorang, misalnya ingin belajar gitar kepada teman, tentunya kita harus terus belajar ke teman kita dan bersungguh-sungguh ingin belajar. Tentunya, kita akan istiqomah belajar gitar, kan? Nah, itulah yang kita lakukan kepada Allah. Kita meminta bantuannya, maka kita harus istiqomah untuk terus berdoa kepada-Nya.
Faktor-faktor tersebut merupakan hal yang pernah penulis alami ketika SNMPTN tahun lalu, 2008. Pengalaman yang sangat berkesan yang meninggalkan pesan positif untuk terus berusaha dan bertawakkal. Pepatah mengatakan, “Ora et Labora” yang artinya Belajar dan Berdoa. Just Do the Best and Let God Do The Rest. Selamat Menempuh Perjuangan Penentuan kalian, Putih Abu-Abuers.. Never Give Up... Semoga Bermanfaat. SEMANGADH... ^^o/
Regards,
Mr. K
Selasa, 16 Juni 2009
Beberapa Faktor Masuk UI...
Pada saat UMB tahun 2009, saya bertemu dengan seorang ibu yang mengantarkan putranya mengikuti ujian di salah satu SMA Negeri. Kebetulan saya sedang berjualan untuk mencari dana. Ketika ibu tersebut mendekati stand kami dan berkata, "Kalian ini dari UI yah. Kok bisa sih masuk UI? Wah, berarti kalian ini hebat-hebat yah."Seorang temanku berkata,"Ah, biasa saja, Bu! Kami cuma mahasiswa yang beruntung bisa masuk UI." Aku menambahkan, "Iya, Bu! Yang penting berusaha dan berdoa."
Sebelumnya, Tulisan ini bersifat subjekti dari penalaran penulis sendiri. Adalah sebuah keniscayaan apabila hal ini benar. Dan merupakan sebuah sifat manusia jika tulisan ini salah. Yang terpenting adalah mengambil hikmah dalam pengalaman manusia.
Pengalaman ini saya alami pada tahun 2008. Saya menyimpulkan bahwa masuk kampus UI memiliki tiga faktor. Faktor-faktor tersebut adalah prestasi, “berlebih”, dan fortune. Ketiga faktor tersebut berdasarkan pengamatan terhadap beberapa mahasiswa UI.
Pertama adalah faktor prestasi. Prestasi merupakan faktor yang tidak bisa diperoleh setiap orang. Faktor prestasi meliputi prestasi akademik dan non-akademik. Prestasi yang dapat diterima di UI adalah prestasi tingkat Nasional dan Internasional. Atlet berprestasi, artis, siswa berprestasi, peserta olimpiade matematika dan fisika, dan beberapa orang yang telah ahli di bidangnya. Jadi, para prestasiers telah m emiliki lin k untuk menjadi mahasiswa UI karena UI sendiri yang mengundang mereka untuk studi.
Faktor kedua adalah “berlebih”. Keadaan finansial yang berlebih memungkinkan seseorang untuk dapat diterima di UI. Tak dapat dipungkiri bahwa kekuatan kertas memang tak terbantahkan. Walaupun, tak dapat membeli semuanya, namun kertas dapat membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Faktor terakhir adalah fortune. Faktor ini merupakan faktor yang diperebutkan oleh setiap orang pada seleksi masuk. Faktor ini terutama sangat berperan pada saat SNMPTN (dahulu SPMB). Hal ini berdasarkan tidak adanya transparansi kelulusan mahasiswa setelah SNMPTN. Dari dahulu, seleksi tidak pernah dipublikasikan, hanya nama peserta yang lulus yang dipublikasikan. Tidak ada publikasi yang jelas tentang berapa nilai peserta masing-masing.
Nah, ketiga faktor tersebut merupakan kunci pembuka gerbang masuk UI. Hal yang perlu diperhatikan adalah lewat mana kita akan masuk UI. Yang jelas, tetap berusaha dan berdoa. Ora et Labora. Kiat selanjutnya untuk mendapatkan fortune yang berlimpah akan dijelaskan pada artikel berikutnya.
Semoga Bermanfaat
Regards,
Kholis E’08